Thursday, November 7, 2019

Brokoli, Sayuran Pencegah Penyakit Kanker

Brokoli (Brassica oleracea) adalah jenis tumbuhan yang  termasuk kubis-kubisan. Sayuran berwarna hijau tua ini di tempat asalnya Italia disebut Broccolo. Bau khas yang keluar ketika brokoli dimasak berasal dari sulfur atau belerang yang terkandung di dalamnya.

Semua kubis-kubisan tergolong dalam kelompok crucifera, kelompok yang dikenal karena kandungan sulforaphane dan indoles yang berkhasiat sebagai anti kanker. Penelitian tentang indoles menujukkan kemampuannya menekan pertumbuhan sel tumor dan dapat mengurangi proses metastasis (penyebaran) sel kanker ke bagian tubuh yang lain.

Sementara itu sulforaphane berperan dalam meningkatkan peran enzim yang bertanggung jawab dalam detofikasi. Dengan semakin optimalnya detokfikasi, maka zat-zat karsinogenik penyebab kanker dapat lebih cepat disingkirkan. Selain itu, studi tentang sulforeaphane menunjukkan bahwa sulforephane menyebabkan apoptosis (bunuh diri sel kanker) pada sel-asel leukimia dan melanoma.

Mencegah radikal bebas
Banyak orang telah mengetahui manfaat mengonsumsi pangan nabati seperti  sayuran dan buah yang kaya akan phytonutrients (gizi nabati). Kemampuan phytonutrients untuk mencegah kanker karena fungsinya sebagai antioksidan sehingga dapat mencegah berbagai kerusakan sel tubuh akibat serangan radikal bebas.

Sebuah studi di Fred Hutchinson Cancer Research Center di Seattle yang melibatkan  1.000 orang sampel, mengungkapkan bahwa mereka yang rajin makan sayuran dapat mengurangi risiko kanker kolon sebesar 35 %, sedangkan yang mengonsumsi kubis-kubisan (termasuk brokoli) dapat menekan risiko kanker 44 %.

Hasil ini relatif sama dengan hasil penelitian di Belanda  - dengan sampel lebih dari 100.000 - yaitu konsumsi sayuran dapat mengurangi kanker kolon 35 %, sedangkan kubis-kubisan dapat mengurangi risiko sampai 49 %. Hal ini menegaskan bahwa peranan brokoli  sebagai sayuran antikanker memang dapat diandalkan.

Selain itu kubis-kubisan (termasuk brokoli) juga terbukti dapat mengurangi risiko kanker paru sampai 30 % pada kelompok bukan perokok, bahkan pada kelompok perokok dampaknya justru lebih baik lagi yaitu menekan risiko kanker paru sampai 69 %. Hal ini dapat menjadi kabar baik bagi perokok kalau memang tidak bisa berhenti merokok, jangan lupa selalu mengonsumsi brokoli atau kubis-kubisan lainnya.

Sumber vitamin dan serat

Brokoli ideal sebagai “mutiara” gizi. Sebagai makanan kaya vitamin dan mineral, tinggi serat dan rendah kalori brokoli memberikan kontribusi penting untuk meraih hidup sehat, panjang umur dan terjauh dari penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner dan kanker. Dua jenis penyakit ini dapat dicegah antara lain dengan mengonsumsi makanan yang tepat dan sehat seperti brokoli.

Setangkai brokoli berukuran sedang mengandung vitamin C setara 220 % AKG (Angka Kecukupan Gizi) dan vitamin A 15 % AKG. Vitamin C sering dijuluki “master of nutrient” karena kemampuannya bukan hanya sekedar sebagai antisariawan, tetapi juga mampu mengendalikan kolesterol, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Sedangkan vitamin A selain untuk kesehatan mata juga bermanfaat untuk mencegah kanker.

Sementara itu serat yang dulu seringkali terlupakan kini menjadi primadona baru dijajaran gizi dan dikenal sebagai antikanker. Keberadaan serat di dalam tubuh menyebabkan pergerakan hasil-hasil proses pencernaan makanan lebih cepat sehingga mengurangi waktu transit di usus besar. Dengan demikian semakin dapat mengurangi penyerapan zat karsinogenik penyebab kanker.

Serat juga berperan sebagai antikolesterol. Seperti diketahui penyakit jantung koroner diawali dengan penyumbatan pembuluh darah oleh kelesterol. Kolesterol LDL (jahat) mempunyai kemampuan untuk menyumbat pembuluh darah bila dalam keadaan teroksidasi. Brokoli dengan kemampuan antioksidannya akan dapat mencegah terjadinya proses oksidasi.

Upaya preventif

Penyakit kanker sampai saat ini belum diketahui obatnya dan penyebabnya cukup beragam. Seringkali deteksi kanker yang menimpa diri seseorang dilakukan terlambat, sehingga pertolongan menjadi semakin sulit. Oleh karena itu upaya preventif harus lebih diutamakan untuk mengatasi kanker. Di sinilah phytonutrients memainkan peranan panting untuk mencegah timbulnya penyakit kanker.

Mengonsumsi brokoli secara rutin mungkin tidak menjadi jaminan bahwa Anda akan terbebas dari penyakit kanker atau penyakit jantung. Namun, paling tidak karena unsur nutrisi dan subtasi lainnya di dalam brokoli telah terbukti berkhasiat bagi kesehatan secara umum.

Membiasakan diri mengonsumsi brokoli atau kubis-kubisan 3-5 cup seminggu sangat dianjurkan. Memilih brokoli yang ditanaman secara organik jelas akan membawa manfaat lebih besar karena brokoli organik mangandung phytonutrients lebih tingi. Di Indonesia, sayuran organik kini dapat dijumpai di swalayan-swalayan tertentu atau di daerah-daerah agak tinggi beriklim sedang tempat brokoli akan tumbuh baik. (ak/kmp)

Artikel Terkait