Tuesday, October 15, 2019

Diabetes, Bawang Merah dan Makanan Kaya Serat

Diabetes atau sering juga disebut penyakit kencing manis adalah sejumlah gangguan kesehatan yang memiliki ciri-ciri khas utama yaitu tingginya kadar gula dalam darah. Hal ini ini disebabkan oleh tidak mencukupi atau tidak efektif hormon insulin penderita sehingga tak dapat bekerja normal. Padahal, pada orang normal, insulin mempunyai peran utama mengatur kadar gula dalam darah.

Ada dua jenis diabetes yang paling umum , yakni diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Diabetes tipe 1, yang diidap oleh 5-10 % penderita, biasanya terjadi pada anak-anak atau orang dewasa muda. Sementara diabetes tipe 2, diidap oleh 90-95 % dari semua penderita diabetes. Umumnya usia harapan hidup orang-orang yang menderita diabetes rata-rata 15 tahun lebih –pendek dari orang-orang yang tidak menderita.

Badan Organisasi kesehatan Dunia, WHO (2005) melaporkan bahwa angka kematian karena diabetes naik sekitar 30% diberbagai negara. Di Indonesia sendiri, terutama di masyarakat kota, jumlah penderita diabetesnya menduduki peringkat ke 6 terbanyak di dunia setelah India, China, Rusia, Jepang dan Brasil. Jumlah penderita diabetes ini di Indonesia diperkirakan akan meningkat menjadi 12 juta jiwa dalam tahun
2025.

Khasiat bawang merah

Selama berabad-abad, lebih dari 350 tanaman berhasil dikenali sebagai obat diabetes. Salah satu yang paling menonjol diantaranya adalah bawang merah. Di Eropa, Asia dan Timur Tengah, bawang merah sudah lama menduduki tampat terhormat dalam ilmu kedokteran sebagai obat diabetes. Penelitian-penelitian modern memperlihatkan, bawang merah memiliki khasiat menurunkan gula darah.

Para peneliti India yang memberikan bawang merah, baik berupa jus maupun bawang merah yang masih utuh, sebesar 25-200 gram pada subyek yang ditelitin, menemukan bahwa makin banyak bawang merah yang diberikan, makin besar gula darah yang berkurang. Tak ada perbedaan efek antara bawang merah mantah dan bawang merah yang telah direbus.  

Menurut teori tim peneliti, bawang merah mempengaruhi metabolisme gula dalam hati, atau metabolisme pelepasan insulin dan mencegah perusakan insulin. Sanyawa yang mungkin mempunyai kemampuan menurunkan kadar gula darah adalah allyl propyl disulfide. Percobaan klinis menujukkan bahwa allyl propyl disulfide menurunkan gula darah dengan cara meningkatkan masa hidup insulin.

Sebenarnya, sudah sejak tahuan 1960 para ilmuwan mendeteksi terdapatnya depressor gula darah dalam bawang merah. Dalam berbagai uji coba para peneliti berhasil mengisolasi senyawa antidiabetes yang disebut tolbutamide dari bawang merah yang bekerja mirip dengan obat farmasi antidiabetes umum, yang sering dipakai untuk mengurangi kadar gula darah. Cara kerja tolbutamide ialah merangsang sintesis dan pengeluaran insulin.

Oleh karena itu, dianjurkan untuk menambahkan bawang merah ke dalam setiap hidangan makanan. Bawang merah dapat digunakan setelah makan dalam jumah bebas.

Serat dari makanan alami
Seperti yang telah disebutkan, tingginya kadar gula darah merupakan masalah utama pada diabetes. Studi mutakhir membuktikan bahwa konsumsi makanan kaya serat, juga dapat memperbaiki kontrol terhadap gula dalam darah penderita diabetes tipe 2. Studi tersebut dilakukan oleh dr Manisha Chandalia dan kolega-koleganya dari Univesity of  Texas South-western Medical Center, Dallas, Amerika Serikat.

Pada studi yang mereka lakukan, 20 penderita diabetes tipe 2 diminta mengikuti dua jenis diet, masing-masing selama enam minggu. Diet partama adalah diet dengan serat dalam jumlah moderat (total serat 24 g;  8 g serat larut dan 16 g serat tidak larut). Sementara, diet kedua ialah diet tinggi serat (total serat 50 g; masing-masing 25 g serat larut dan serat tak larut).

Setelah membandingkan efek dari dua diet tersebut terhadap kontrol gula darah dan kadar lemak darah ditemukan ternyata penderita-penderita diabetes yang mengkonsumsi total serat 50 g sehari mempunyai kadar gula darah lebih rendah dan lebih stabil daripada penderita diabetes yang mengkonsumsi diet moderat serat. Diet tinggi serat ini juga menururnkan kadar kolesterol total  darah sekitar 7 %.

Menurut Chandalia dkk, mekanisme yang memperbaiki pengendalian gula darah dengan konsumsi makanan tinggi serat ini diduga disebabkan oleh serat jenis gum dan pektin yang dapat memperlambat pengosongan lambung, dan bahkan memperlambat atau menurunkan penyerapan gula darah.

Penelitian mereka juga menujukkan pula bahwa efek pengendalian gula darah ini lebih mungkin dicapai dengan mengkonsumsi makanan kaya serat dari sumber alami.

Karenanya para penderita diabetes - seperti yang juga diberikan Chandalia dkk pada subyek penelitian - dianjurkan untuk mengkonsumi makanan alami kaya serat seperti jeruk segar, nanas segar, pepaya segar, tomat segar, jagung, kacang hijau, roti dan whole wheat dibandingkan dengan preparat atau suplemen serat. Buah terutama jeruk, nanas dan kacang hijau merupakan sumber serat yang andal. (na/kmp) 

Artikel Terkait